|

Prof. Dr.
H. Salman Harun
Prof. Dr. H. Salman Harun lahir di Pariaman, Sumatra
Barat, pada tanggal 12 Juni 1945. Beliau adalah Guru Besar Tafsir pada
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Syarif Hidayatullah.
Prof. Dr. H. Salman Harun termasuk anggota tim yang
telah menyelesaikan revisi 14 jilid “Tafsir Departemen Agama”. Atas kerja
keras menyelesaikan tugas ini, pada tahun 2008, beliau menerima penghargaan
Karya Satya Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia. Satya lencana itu
merupakan penghargaan atas jasa tim sekaligus pengakuan atas keilmuwan
mereka.
Prof. Dr. H. Salman Harun menyelesaikan pendidikan
sarjana dalam bidang studi Bahasa Arab di Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Syarif Hidayatullah tahun 1973. Pada tahun 1988, beliau telah menyelesaikan
pendidikan S3 dalam bidang Tafsir di IAIN Syarif Hidayatullah. Beberapa
pendidikan profesi yang beliau ikuti di antaranya adalah Penataran
Penerjemah (di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Diknas) dan Latihan
Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial (di Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial,
Universitas Syah Kuala, Banda Aceh).
Disertasi beliau berjudul Hakekat Tafsir Tarjuman
Al-Mustafid karya Syekh Abdurrauf Singkil, di bawah bimbingan Prof. Dr.
Harun Nasution, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dan Prof. Dr. A. H. Johns
(Australian National University, Canberra, Australia). Kitab itu adalah
karya tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Melayu. Penelitian dilakukan
di Leiden University dan KITLV Leiden, Belanda pada tahun 1983-1984.
Beberapa karya ilmiah beliau antara lain:
v
Pelajaran Bahasa Arab Al-Quran (1993), buku pelajaran
Bahasa Arab yang seluruh materinya diambilkan dari ayat-ayat Al-Quran.
v
Mutiara Al-Quran (1999), kumpulan karangan mengenai Al-Quran.
v
Mutiara Al-Fatihah (2000), pembahasan mengenai surat
Al-Fatihah.
Berikut ini adalah beberapa karya ilmiah penting
lainnya:
v
Islam dan Yoga (2009), paper seminar internasional,
Bali.
v
The Priciples of Religion Tolerance in Islam (2007),
paper seminar internasional, University of Brisbane, Australia
v
Creating More Human Global Society (2008), paper
seminar internasional, Liverpool Hope University, United Kingdom.
v
Islam, Agama-Agama, dan Toleransi (2007),
diterbitkan dalam Jurnal Studia Islamika, UIN.
v
Pluralism in Islam (2009), keynote speech seminar
internasional Yoga for Health and Peace, Bali.
Beliau juga punya beberapa tulisan yang dimuatnya
dalam blog pribadinya: Salman Harun Institute Google Blogspot.com.
Sejak tahun 2003, Prof. Salman telah menjadi pengasuh
program “Mutiara Pagi” di Radio Republik Indonesia (RRI) gelombang 91.2 FM.
Program ini berlangsung setiap pukul 5.15 pagi dan berisi kupasan Tafsir Al-Quran.
Saat ini beliau juga bergabung sebagai anggota Comparative Education
Society of Asia (CESA), yang berkantor pusat Seoul, Korea Selatan.
Sebagai dosen, Prof. Salman memfokuskan dirinya
mengajar di Program Studi Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (PSTTI
UI) dan di almamaternya. Di FITK-UIN, beliau mengajar mata kuliah Tafsir,
Tafsir Tarbawi (Tafsir Pendidikan), dan Tafsir Maudhu’i (Tafsir Tematik).
Beliau juga mengajar Tafsir Kontemporer Indonesia untuk jenjang S2 dan S3 di
Sekolah Pasca Sarjana, UIN Syarif Hidayatullah.
Di Program Studi Timur Tengah dan Islam Universitas
Indonesia (PSTTI UI), beliau bersama tim pengajar lainnya mengajar mata
kuliah Islamic Worldview. Mata kuliah itu mengetengahkan pandangan
Islam mengenai lembaga-lembaga atau konsep-konsep dalam agama Islam,
misalnya tentang Tuhan, manusia, masyarakat, alam, kenabian, agama, wahyu,
ilmu pengetahuan, dsb. Tujuan dari mata kuliah ini adalah agar mahasiswa
memahami ideologi Islam mengenai masalah-masalah itu dan siapa yang mau
dapat menjadikannya sebagai pandangan hidupnya.
Misalnya mengenai manusia. Prof. Salman menyatakan
bahwa menurut Islam manusia itu diciptakan Tuhan, bukan hasil evolusi
seperti dinyatakan dalam sebuah teori antropologi. Nenek moyang pertama umat
manusia adalah Adam yang dari tulang rusuknya diciptakan Hawa. Kaum feminis,
menurut Prof. Salman, banyak salah paham. Mereka menyatakan bahwa bila Hawa
diciptakan dari tulang rusuk Adam, berarti bahwa kaum perempuan lebih rendah
statusnya dari laki-laki. Kesimpulan itu, menurut Prof. Salman, salah sekali,
karena yang diciptakan dari tulang rusuk hanya Hawa. Setelah Adam dan Hawa
terbentuk maka semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama
diciptakan dari sperma dan ovum. “Dengan demikian laki-laki dan perempuan
itu sederajad,” tandas Prof. Salman.
Perkuliahan diberikan dalam bentuk ceramah, diskusi,
pembuatan makalah, dan ujian. Materi dalam mata kuliah ini diberikan dalam
bentuk telaah analitis, komprehensif, dan komparatif dengan worldview
agama atau peradaban lain. Mahasiswa diwajibkan mengikuti perkuliahan ini
minimal 80% dari seluruh jam kuliah. Dengan mengikuti mata kuliah ini,
mahasiswa diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif dan
mendasar serta mampu menjawab tantangan pemikiran kontemporer.
Sampai saat ini, beliau masih melakukan hobi beliau
sejak menjadi mahasiswa, yaitu jogging, yang beliau lakukan secara
rutin bersama dengan istri. “Sambil jalan santai hampir setiap pagi, kami
membicarakan masalah-masalah yang menarik atau dihadapi dalam rumah tangga,”
kata Prof. Salman. Prof. Salman menambahkan bahwa karena selalu berduaan
dengan isteri hampir setiap pagi itu, dan terlihat orang hampir selalu
dihiasi senyum, “Orang ada yang menilai kami pacaran terus setiap pagi.”
Terhadap mahasiswa-mahasiswanya, beliau berharap agar
mereka belajar dengan tekun, bekerja keras, berdisiplin, dan berdedikasi.
Dedikasi artinya mengabdi bagi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.
“Itulah yang diajarkan Islam,” tandas Prof. Salman. “Islam mengajarkan agar
umat Islam berlomba-lomba dalam mempersembahkan kebaikan.” Beliau juga
memberikan tip belajar sukses. “Baca materi yang akan dipelajari dalam
kuliah besok, ikuti perkuliahan hari itu dengan baik, dan sorenya ulangi
serta kembangkan materi kuliah yang baru diterima tadi,” tandas Prof. Salman.
|